Abis nonton 24 series, jadi mikirin tentang waktu. Gue, mereka, dan siapapun yg hidup di dunia ini mempunyai jatah waktu yg sama untuk dinikmati. Sama2 punya 24 jam sehari. Ga kurang, ga lebih. Ga ada yg punya waktu 30 jam sehari, ga ada yg cuma punya 8 jam sehari. Dari jatah waktu 24 jam tersebut, kita di tuntut untuk pintar2 mengatur ritme aktivitas kita dalam sehari. Biasanya kita punya aktivitas2 yg kurang lebih sama satu orang dengan orang lainnya. Waktu keluarga, sekolah, kerja, sosialisasi, ibadah, dan lain sebagainya.
Untuk gue, yg mulai beraktivitas dimulai dari bangun tidur sekitar pukul 4.30 am, biasanya di mulai dr sholat, bangunin anak, ngurusin anak sampe dia berangkat sekolah, kemudian gue sendiri berangkat kerja kira2 pukul 7 am. Sampai kantor, tergantung situasi jalan, kira2 jam 8.30 am. Kemudian, aktivitas kerja di mulai sampe jam 5 pm, kemudian pulang, dan sampai rumah normalnya jam 7 pm. Banyak kemungkinan untuk molor, tergantung suasana jalan dan jam berapa dari kantor. Tapi tunggu dulu, kadang2 malah gw diharuskan pulang jam 7 lebih dari kantor. Pulang kantor? Tergantung ‘bersahabat atau tidaknya’ pekerjaan yg harus dibereskan. Kalo diambil rata2 bisa pulang sekitar pukul 7.30 pm dr kantor. Lantas, sampe rumah jam berapa? Yah, bisa ditambahkan sekitar 1,5 sampai 2 jam. Jadi sekitar jam 9 pm sampai rumah.
Trus, apa ga capek? Pasti capek lah, tapi mau bagaimana lagi? Apa perlu pindah rumah supaya dekat kantor? Atau pindah kantor supaya dekat rumah? Dua2nya ga gampang.
Tapi hal yg paling menjengkelkan adalah kalo, disaat2 gue sudah sampai rumah, yg semestinya gue bisa beristirahat atau bisa menjalankan aktivitas yg laen, misalnya berkomunikasi dengan anggota keluarga yg laen, tapi malah mendapatkan sms soal kerjaan di kantor. What? Yes, that’s annoying me and parahnya, lebih menjurus ke masalah sopan dan tidaknya. Coba aja bayangkan, dengan waktu yg sudah gue curahkan ke pekerjaan gue, yg kira2 8 sampe 10 jam sehari untuk urusan kantor, tinggal berapa waktu yg gue punya dalam sehari? Begini illustrasinya. Sehari 24 jam. Dipotong waktu tempuh di jalan, rata2 minimal 3 jam pulang pergi, dipotong jam kerja yg rata2 minimal 9 jam, waktu tersisa tinggal 12 jam sehari. Dan dipotong untuk istirahat, kira2 7 jam, tinggal tersisa 5 jam saja. Dan dari 5 jam, harus di pilah2 lagi untuk urusan keluarga, ibadah dan aktivitas yg laen.
Dan saat yg menyebalkan adalah, disaat gw sudah menjalankan aktivitas pekerjaan yg total waktunya sampai 50% dari total jam sehari, masih saja gue diharuskan menerima sms dan menjawab sms tentang pekerjaan yg seharusnya bisa di bahas di kantor, tidak di rumah. Dan runyamnya lagi, gue ga bisa memfilter sms yg masuk ke dalam ponsel gue (andaikata sudah ada softwarenya, gue dengan senang hati menerimanya). Kenapa tdk dimatikan? Wah maap saja, bagi gue, ponsel mempunyai fungsi untuk mempermudah hidup gue, bukan malah merusak hidup gue atau bahkan memperbudak hidup gue. Gue reply dan pastinya gue akan mendapatkan lebih banyak reply yg pada akhirnya akan menjadi never ending stories dan berbalas pantun. Bayar pulsa pula. Gue ignore? Pastinya besok akan ada pertanyaan manis “Sudah baca sms saya semalem?” Bagaikan buah simalakama.
Tapi terus terang, gue ga rela, disaat gue mempunyai waktu untuk beristirahat dan makan malam, serta menikmati waktu bersama keluarga, malah gue di sibukkan untuk urusan2 pekerjaan yg semestinya bisa menunggu sampai besok pagi gue di kantor. Kecuali urusan hidup atau mati, dan pastinya itu bukan urusan kantor. Apakah dengan gue bekerja dengan satu kantor, berarti bahwa, otomatis, 24 jam waktu gue akan tergadaikan untuk urusan ‘kepentingan’ kantor semata? Kalo begitu, gue harus resign dan cari tempat kerja yg laen dong. Dan apakah nantinya, disaat interviu, gue harus nanya dulu ama calon user gue dengan pertanyaan ‘Maaf, apakah bapak/ibu suka sms soal kerjaan diluar jam kantor?’ Bisa2 di usir satpam kantor tsb.
Teknologi dibuat untuk memudahkan urusan manusia, bukan malah mempersulit. Dan sama halnya dengan hidup, semua hal mempunyai 2 mata uang seperti koin. Hal baik dan buruk. Contoh misalnya pisau. Ketika diciptakan adalah untuk memudahkan manusia untuk memotong sesuatu dengan mudah. Jika kemudian, disalahgunakan untuk menodong atau merampok, berarti salah si penggunanya. Sama halnya dengan telepon. Diciptakan untuk memudahkan berkomunikasi antar individu. Jika kemudian disalah gunakan untuk keperluan yg tidak baik, mungkin malah akan merusak hidup. Dan Alexander Graham Bell tentunya akan menyesal menciptakan telepon.
Sebenarnya alasan gue mempunyai beberapa ponsel adalah, disaat urgent gue bisa menggunakannya, jadi gue bisa menghubungi dan dihubungi.
Dan tadinya gue berharap dengan memberikan nomer ponsel gue ke seseorang yg gue kenal, orang tersebut bisa menggunakannya secara bijaksana. Dan ini berlaku juga untuk semua identitas private gue yg gw share ke orang2 seperti no telp rumah, email dan yahoo messenger. Tidak untuk digunakan menjadi hal2 yg bisa merugikan gue dan merusak hidup gue. Karena tidak mungkin juga, gue harus terus2an mengganti sim card. Tidak praktis dan merepotkan.Harus mengcopy phonebook dan notify mereka yg di dalam list agar ga lost contact ama gue. Dan ketika gue mulai merasa ga nyaman lagi, berarti harus hunting nomer baru lagi. That’s ridiculous!
Mungkin hal yg bisa gue lakukan secara bijaksana adalah mencoba mengingatkan ke mereka yg gue rasa sudah sampai taraf mengganggu, dengan tidak mengulangi perbuatan2 tersebut. Bahwa, patut disadari bahwa, gue adalah manusia biasa yg mempunyai hak untuk ‘mengais’ sebagian kecil dari waktu gue yg tersisa dari 24 jam sehari untuk kemudian menikmatinya bersama keluarga. Mencoba untuk memohon kearifan dari pelaku2 ‘annoying’ tersebut. Jika gagal? Yah yang penting segala upaya sudah dilakukan, apa boleh buat, berarti guenya yg harus berbesar jiwa dan hati untuk memaklumi tabiat2 tersebut. Penjara pun ga sanggup untuk membuat semua penghuninya jadi orang baek.